Tampilkan postingan dengan label arbeta. Tampilkan semua postingan
Budidaya Ikan Wader
Habitat Ikan Wader
Ikan wader merupakan ikan air tawar yang tidak asing dan mudah ditemukan di Indonesia. Namun secara umum, ikan wader merupakan ikan yang terdistribusi secara rata di daerah Asia Tenggara dan Selatan seperti India dan Indonesia. Ikan wader terbukti sangat popular untuk dikonsumsi dalam berbagai macam bentuk seperti lauk lalap atau snack. Oleh karena itu, permintaan pasar terhadap supply produk ikan wader cukup tinggi di pasaran. Sayangnya, tidak banyak orang yang mengethaui tentang cara budidaya ikan tersebut. Padahal bisnis ikan wader memiliki potensi yang cukup besar sebagai mata pencaharian sehari – hari. Berikut merupakan beberapa tips tentang teknik budidaya ikan wader.
Ikan Wader
Gambar Ikan Wader
Mengetahui Anatomi dan Morfologi Ikan Wader
Untuk membudidayakn ikan wader, pertama – tama kita harus mengetahui ciri – ciri fisik ikan wader agar mempermudah dalam pemeliharaannya. Di Indonesia, pada umumnya kita dapat menjumpai dua jenis ikan wader, yaitu wader pari dan wader cakul. Ikan wader pari cenderung lebih ramping dan memiliki warna keemasan dan keperakan di bagian atas dan bawah tubuhnya. Sedangkan wader cakul memiliki warna perak kehijauan dan memiliki dua bintik di bagian ujung ekornya. Kedua jenis wader tersebut memiliki ukuran kurang lebih 10-17 cm. Pada ikan wader betina biasanya terdapat tiga lubang kelamin dibandingkan jantan yang hanya memiliki dua.
Persiapan Tempat Pemeliharaan
Untuk membudidayakan ikan wader, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyediakan kolam atau tempat pemeliharan yang layak. Dua macam kolam harus disediakan, yaitu kolam untuk induk dan juga kolam untk pengembangbiakkan bibit baru. Sebelum memindahkan ikan wader hasil tangkapan ke dalam kolam, alangkah baiknya apabila kolam dikeringkan dahulu selama beberapa hari. Upaya tersebut ditujukan untuk membunuh bakteri dan menghilangkan aroma tidak sedap pada saat usaha pemijahan. Air yang digunakan untuk mengisi kolam juga diharuskan air tawar. Jangan lupa untuk menjaga kebersihan kolam agar ikan wader anda terhindar dari benih – benih bakteri, jamur, dan penyakit.
Pemisahan Induk
Seperti yang telah disebutkan diatas, kolam untuk induk ikan wader harus disendirikan dari kolam bibit ikan. Hal tersebut dikarenakan adanya resiko induk untuk memakan telur atau bayi ikan mereka. Setelah dipisah, induk – induk tersebut harus diberi makan pellet atau ampas tahu agar segera mematangkan gonadnya. Gonad merupakan kelenjar yang memproduksi cairan gamet yang dapat menarik ikan jantan untuk membuahi sel telur mereka. Gonad biasanya akan matang setelah dua hari diberi makan dan dirawat pada kolam khusus induk. Setelah gonad matang, langkah selanjutnya adalah melakukan pemijahan atau pemberanakkan. Secara umum, telur ikan wader akan menetas 24 jam setelah telur dikeluarkan.
Pemisahan Larva dan Benih Ikan Wader
Setelah benih ikan wader menetas, adalah penting untuk segera memindahkan benih – benih tersebut ke kolam tersendiri. Benih ikan wader biasanya akan memakan plankton atauu lumut yang tumbuh di kolam. Namun untuk menambah nutrisi dan mempercepat pertumbuhan, bisa diberikan asupan nutrisi lain terhadap bibit – bibit ikan wader tersebut. Pemberian nutrisi tambahan tersebut dapat dilakukan melalui kuning telur ayam rebus yang dihaluskan. Memberi kuning telur ayam rebus secara rutin akan memberi bibit – bibit tersebut pasokan protein yang penting bagi pertumbuhan mereka. Ukuran benih ikan wader secara umum berkisar antara 0-5 cm dengan berat rata – rata mencapai sekitar 1 gram.
SEJARAH BUYUT PASAR BETOYO
Pada zaman kesultanan giri daerah betoyo dan sekitarnya
sudah menganut agam islam tapi keimanan mereka maih lemah sehinggamasih banyak
warga yang melakukan hal-hal yang jauh dari kemurnian islam.Ini di tandai
dengan maraknya perjudian,minuman arak,tandak dan sejenisnya.
Di kala ada warga yang melakukan hajatan baik nikah atau
sunatan yang mana itu semua tidak sesuai dengan tuntunan agama islam.Mengetahui
akan hal tersebut,kesultanan giri mengutus seorang kesatria pilihan yang sakti
mandraguna untuk berdakwa ke betoyo dan sekitarnya.Dalam dakwanya beliau
mendapat perlawanan dari warga yang tidak mau menghilangkan kebiasaan buruknya.
Suatu kali dia melakukan dakwah di desa kemudi.Akhirnya
beliau dikejar-kejar hendak di bunuh oleh masyarakat setempat.Beliau lari ke
utara dan di suatu tempat orang-orang yang mengejar bersorak mengira beliau
terbunuh.sekarang tempat tersebut di namai tambak SISORAK.
Beliau terus lari ke utara melewati tanah yang tidak rata
dan berundak-undak.kelak daerah tersebut bernama tambak SIJOGAG.
Beliau terus lari ke utara dan orang orang yang mengejar
mengepungnya dengan palang bambu tapi karena kesaktiannya beliau dapat
meloloskan diri.kelak daerah tersebut di kenal jadi tambak SIMALANG.
Pengejaran di teruskan namun krena orang orang yang mengejar
dan beliau sama sama lumpuh dan terkuras tenaganya maka di lakukan ikrar damai.Kelak
daerah tersebut di kenal dengan tambak SIDUMUNG(adu omong).
Tiba tiba dari utara dan barat muncul orang orang dari desa
betoyo yang ingin membunuh beliau.mereka bersenjatakan bambu runcing dan
berniat menusukkannya kepada beliau.kelak daerah tersebut di kenal dengan
Tambak SISUJEN(Bambu yang runcing untuk menusuk).
Pelarian masih berlanjut dan akhirnya beliau sampai di pasar
betoyo.tiba-tiba ada orang tua misterius yang bicara,”Kalian semua tidak akan
bisa membunuhnya meskipun dengan pedang sekalipun kecuali kalau kalian semua bisa mengepungnya dengan
memakai lopak(Anyaman bamboo untuk panen ikan)dan tidak boleh ada yang memukuli
atau berusahah melukainya dengan senjata tajam”.
Akhirnya orang orang menuruti perkataaan orang tua misterius
tersebut dan dengan izin Allah SWT beliau wafat di tempat tersebut dan di
makamkan di tempat tersebut.kini berlokasi tepat di sebelah masjid jami’ BAITUL
FATTAH.
wassalam.
Sumber : Diceritakan Oleh H SHOLEH ALY dari cerita kakeknya
di perkuat pendapat beberapa Orang di luar desa betoyo yang tahu kebenaran
cerita tersebut.
Tag :
arbeta
Vidio Qurban Masjid Baitul Fattah
penjagalan sapi
pemotongan sapi pertama
oleh : Bpk.Rusdy Aziz
sang jagal
tajamnya mata parang
Tag :
arbeta
pemaianan Anak Kampung (Sepiring Seperak)
sepiring seperak adalah games yang bisa dilakukan oleh lebih dari
empat orang,.. dengan salah satunya menjadi orang yang “jadi",.. yaitu
orang yang berdiri di tengah yang diharuskan nyanyi sambil menunjuktangan yang di tengadahkan,,..
Permainan ini dilakukan dengan bernyanyi,.
dengan di ujung nyanyian diberikan satu tebakan… dan di lanjutkan denagn menyabut nama dan jawaban sesuai pertanyaannya berkisar
tentang buah/hewan..
makanya permainan ini dinamakan sepring seperak.Anak2 yang mengelilingi si “jadi’ ini berkeliling mengadah astu tangan
sambil menyanyikan lagu jamuran,.. yang kalau tidak salah syairnya
seperti berikut ini
”sepiring dua piring ,seperak dua perak apa namanya,..(rambutan)..mas agus pilih rambutan.“
yang menjadpat gilitran yang terakhir akan " jadi",.. nanti di mulai lagi disebut oleh si “jadi ” ini,.. semisal,.
‘a kamu duluan,maka jadi awal lagu”,.. maka anak yg tidak “jadi “tetap mangadahkan tangan,.dan di lakukan secara berulang,biasanya yang "jadi" si duruh gendongan atau pijit.
Tag :
arbeta
ASAL USUL DESA BETOYO
Kyai Darmo Pipiyudo adalah pendatang yang pertama masuk ke
daerah sebelah barat Manyar. Daerah itu belum dihuni banyak penduduk. Hanya ada
beberapa rumah di daerah itu. Daerah itu dikelilingi rawa-rawa sehingga bila
dilihat dari luar daerah itu seperti hamparan rawa yang luas yang ditumbui
rerumpuutan dan ilalang yang menjulang. Orang tidak menyangka kalau di
tengah-tengahnya terdapat pemukiman penduduk
Kyai Darmo Pipiyudo berasal dari negari seberang. Ia berasal
dari kota suci Mekah. Ia meninggalkan negaranya dan mengembara demi menyebarkan
agama Islam. Dalam pengembaraannya itu ia sampai di daerah itu dan merasa
nyaman tinggal di tempat itu.
.Kyai Darmo Pipiyudo dituakan dan ditokohkan di daerah itu
karena ia satu-satunya pendatang pertama dan yang paling tua umurnya di anatara
pendatang lainnya. Ia sangat disegani dan dihormati oleh penduduk setempat.
Apapun yang dikatakannya penduduk setempat selalu mematuhinya.
“Daerah ini tidak waris kalau dipimpin oleh penduduk asli.
Bila yang memimpin daerah ini berasal dari penduduk asli maka pemimpin itu
tidak akan lama. Ia tidak akan berumur panjang” kata Kyai Darmo Pipiyudo suatu
ketika kepada penduduk setempat.
Ucapan itu benar-benar dipegang teguh oleh
penduduk setempat. “Meskipun pemimpin itu pintar tapi ia tidak akan kuat
memimpin daerahnya sendiri. Daerah ini yang cocok dipimpin oleh penduduk
pendatang meskipun ia tidak begitu pintar tapi akan kuat memimpin daerah ini”
tambahnya.
Suatu ketika daerah itu dipimpin oleh penduduk asli. Ia
tidak lama memimpin daerah itu. Tidak lama memimpin daerah itu ia meninggal
dunia Peristiwa ini memperkuat keyakinan penduduk terhadap ucapan Kyai Darmo.
“Abah saya mohon izin untuk memimpin daerah ini” kata Laras
Mudin kepada abahnya.
“Menurut Abah, kamu ini kurang tepat kalau memimpin daerah
ini” kata Kyai Darmo.
“Mengapa demikian, Abah?”tanya Laras Mudin.
“Menjadi seorang pemimpin itu harus seorang berhati segoro
karena pemimpin itu akan berhadapan dengan berbagai macam penduduk yang
mempunyai watak yang berbeda-beda. Sifat ini yang belum kamu miliki
anakku.”jelas Kyai Darmo.
“Berarti Abah tidak memberi izin saya untuk memimpin daerah
ini?”tambah Laras Mudin.
“Bukan begitu, anakku. Abah hanya memberikan pertimbangan
kepadamu supaya kamu pikirkan matang-matang sebelum kamu teruskan niatmu itu.
Keputusan itu ada padamu karena kamu sudah dewasa. Sebagai orang tua Abah hanya
memberikan nasihat kepadamu.” kata Kyai Darmo.
Laras Mudin atau yang lebih dikenal penduduk dengan
panggilan Mbah Mudin akhirnya mengurungkan niatnya untuk menjadi pemimpin di
daerahnya. Ia sudah memikirkan masak-masak dan sudah mempertimbangkan
baik-buruknya. Ia membenarkan ucapan abahnya kalau wataknya kurang cocok sebagi
seorang pemimpin. Ia merasa kalau dirinya keras dan kaku.
Watak itu memang
kurang sesuai dengan watak seorang pemimpin. Ia tidak mempunyai hati samudra
sebagaimana yang disyaratkan Abahnya. Ia manyadari bahwa masyarakat akan
melawan kalau dipimpin dengan menggunakan kekerasan dan tangan besi.
Sauatu hari Kyai Darmo kedatangan seorang tamu.
“Assalamu alaikum” sapa tamu itu..
“Walaikum salam warahmatullah wabarokatuh” jawab Kyai Darmo.
“Kisanak ini siapa dan dari mana?” tanya Kyai Darmo.
“Maaf, Kyai. Saya Jakfar dari Tuban” Jawab Sayid Jakfar.
“Ada keperluan apa Kisanak datang ke gubuk kami?” tanya Kyai
Darmo kepada tamunya dengan nada rendah.
“Saya ke sini ingin menimbah ilmu kepada Kyai. Saya sudah
mendengar banyak tentang Kyai. Ketinggian ilmu Kyai sudah kondang sampai di
daerah kami. Oleh karena itu, saya jauh-jauh datang ke sini untuk berguru
kepada Kyai”tutur Sayid Jakfar.
“Saya tidak mempunyai ilmu apa-apa. Semua ilmu itu milik
Allah subhanallahu wa ta ala. Saya hanya ditipipi setetes ilmu-Nya saja. Hanya
orang-orang yang terlalu membesar-besarkan” jawab Kyai merendah.
“Saya tidak salah memilih Kyai sebagai guru saya karena
orang berilmu tinggi namun rendah hati” ujar Sayid Jakfar.
Sebagai seorang murid yang taat, ia menurut perintah
gurunya. Ia menjadi pemimpin di daerah itu. Namun, ia tidak lama menjadi
pemimpin daerah itu. Ia meninggal dunia. Hal ini juga berulang pada murid Kyai
Darmo yang bernama Sayid Abdur Rahman. Ia juga bernasib sama dengan Sayid
Jakfar meninggal dunia tidak lama setelah memimpin daerah itu. Hal serupa juga
dialami murid ketiga Kyai Darmo.
Daerah itu tidak ada yang memimpin karena pemimpinnya
meninggal dunia. Atas saran Kyai Darmo selaku orang yang dituakan di daerah itu
akan diadakan pemilihan pemimpin yang baru. Wara-wara dikumandangkan di
mana-mana bahwa akan diadakan pemilihan pemimpin daerah itu. Semua penduduk
boleh mencalonkan diri, baik penduduk asli maupun penduduk pendatang dari
daerah lain.
Setelah lama diumumkan kepada penduduk, ada dua orang yang
mencalonkan diri sebagai calon pemimpin daerah itu. Mereka kakak beradik, Sayid
Noroyudo dan adiknya yang bernama Sayid Simoyudo.Penduduk daerah itu mengadakan pemilihan calon
pemimpinnya Mereka berbondong-bondong menuju ke tempat pemilihan.
Mereka
antri mendapat giliran. Mereka memilih calonnya dengan memasukkan biting ke
dalam bumbung yang telah disediakan untuk masing-masing calon. Setiap penduduk
yang telah memiliki hak pilih mendapatkan satu biting.
Setelah penduduk yang mempunyai hak pilih itu melakukan
pemilihan dan batas waktu pemilihan yang ditentukan sudah dilalui.
Panitia pemilihan mengadakan penghitungan biting yang dimasukkan ke dalam
masing-masing calin pemimpin.
Dalam pemilihan itu Sayid Simoyuda memenangi pemilihan itu
mengalahkan kakaknya, Sayid Noroyudo. Sayid Simoyudo dikukuhkan sebagai
pemimpin baru di daerah itu menggantikan pemimpin yang telah meninggal dunia.
Sayid Noroyudo merasa malu karena dikalahkan adiknya dalam
pemilihan itu, ia memilih pindah meninggalkan daerah itu. Ia pindah ke barat ke
daerah Pentol. Di daerah barunya itu ia menjadi tokoh yang disegani karena
ilmunya. Di daerah ini ia mendidirkan tempat ketangkasan ilmu yang berada di
tengah-tengah desa.
Dengan adanya tempat adu ketangkasan ilmu itu sering
terjadi keributan dan pertengkaran antara warga desa Pentol dan desa Tanggul
rejo. Agar tidak sering terjadi keributan di desa Pentol itu pada saat adu
ketangkasan maka desa Pentol diganti nama menjadi desa Sumberejo Penggantian
nama itu diharapkan dapat memberikan suasana baru.
Suatu hari Sunan Giri Gresik pulang dari pengembaraan
dan sampai di daerah Pedurungan. Ia dikuti santrinya. Di daerah itu
santrinya kehausan. Mereka tidak menemukan air tawar yang dapat diminum.
Santri-santrinya diutus mencari air di sekitar daerah itu namun tidak
menemukan.
Di daerah itu airnya asin semua sehingga tidak bisa diminum. Melihat
santrinya sudak tidak kuat lagi menahan rasa laparnya, Sunan Giri menancapkan
tongkatnya ke tanah. Bekas tancapan tongkat itu mengeluarkan sumber air tawar.
Para santrinya sangat senang melihat air tawar itu. Mereka segera mengambil air
dan meminumnya untuk menghilangkan rasa dahaganya. Sumber air itu menjadi
sebuah sumur dan berada di tengah-tengan pasar Pedurungan.
Setelah puas mengisi perutnya dengan air tawar dan jernih
itu, rombongan Sunan Giri meneruskan perjalanan menuju ke selatan sampai di
daerah Tambak Brekat. Terik matahari menguras air yang ditampung di perut
mereka. Sengatan matahari itu menyebabkan kerongkongan mereka kering kerontang
lagi. Mereka merasa haus. Mereka mencari sumber air tawar di daerah itu tidak
menemukan. Mereka menghadap kepada Sunan Giri kalau di tempat itu tidak ditemukan
sumber air tawar yang bisa diminum padahal rasa haus mereka sudah tidak bisa
ditahan lagi.
Sunan Giri mengangkat tongkat yang dipegang di tangan kanannya
Tongkat itu ditancapkan ke tanah. Tongkat itu masuk ke tanah dengan mudahnya
Tanah itu menjadi berlubang dan lubangnya semakin membesar membentuk sumur.
Sumur itu mengeluarkan air tawar yang jernih. Santri Sunan Giri segera
mengambil air dan minum sepuas-puasnya.
Rombongan itu meneruskan perjalanan ke arah timur setelah
beristirahat beberapa saat di daerah Tambak Brekat. Mereka berjalan kaki
menyusuri jalan itu dibawa panasnya matahari yang membakar kulit. Rombongan itu
sudah jauh meninggalkan daerah Tambak Brekat. Di tengah perjalanan salah
seorang santrinya menderita sakit. Ia mengalami kecapekan selama dalam
perjalanan.
Santri yang sakit itu minta minum karena kehausan. Sunan Giri
menyuruh santrinya untuk mencari air di sekitar daerah itu. Mereka tidak
menemukan sumber air tawar di sekitar daerah itu. Sunan Giri menggunakan
tongkatnya untuk membuat sumber air sebagaimana yang dilakukan saat di
Pedurungan dan Tambak Brekat. Diangkatnya tongkat di tangan kanannya itu dan
ditancapkan ke tanah. Setelah tongkat itu dicabut tak setetespun air yang
keluar dari bekas tancapan tongkat itu.
Santri yang memperhatikan dan menunggu
keajaiban sebagaimana yang mereka alami sebelumnya tidak terjadi. Mereka merasa
keheran-heranan. Sunan Giri menancapkan tongkatnya lagi ke tanah untuk kali
kedua namun air tak kunjung keluar dari tanah tersebut. Mereka merasa lebih
heran lagi mengapa tidak seperti sebelumnya hanya dengan sekali tancap langsung
keluar sumber airnya denga deras.
Mereka tidak berani bertanya kepada gurunya.
Sunan Giri mengilanginya sampai ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh,
kedepalan, dan kesembilan. Hasilnya nihil tidak ada sumber air yang keluar dari
tanah bekas tancapan itu.
“Santri-santriku, rupanya Allah menguji kesabaran kita” kata
Sunan Giri.”Kita harus tabah terhadap ujian yang diberikan Allah kepada kita”
tambahnya. Para santrinya yang mendengar tidak menjawab sepatah kata pun hanya
menganggukkan kepala.
“Pergilah kamu mengabil air tawar untuk temanmu yang sakit
ini di tempat yang ada sumber air tawarnya itu” kata Sunan Giri sambil menunjuk
daerah yang baru saja ditinggalkannya.
“Dengan apa saya harus membawa air itu Kanjeng Sunan?”tanya
santri yang ditunjuk itu. Sunan Giri belum sempat menjawab pertanyaannya santri
itu terburu-buru pergi meninggalkan tempat itu. Sunan Giri merawat santrinya
yang sakit. Santri itu dibaringkan di bawah bawah yang rindang agar tidak
semakin haus terkena sengatan sinar matahari. Santri lainnya memijat-mijat kaki
dan tangan temannya yang sakit.
“Haus…haus…haus” ujarnya pelan.
“Sabar sobat sebentar lagi teman kita datang membawa air”
ujar temannya.
Sementara itu santri yang ditugasi mengambil air itu terus
berjalan cepat agar sampai di tempat yang dituju sambil memikirkan wadah untuk
membawa air. Di tengah perjalanan ia melihat sebuah buah kelapa muda yang baru
saja terjatuh dari pohonnya. Pikirannya pecah. Ia mengambil buah kelapa itu.
Buah itu dilemparkan ke tanah keras-keras sehingga pecah dan terbelah menjadi
dua.
Ia bergegas-gegas menuju sumur yang dibuat Sunan Giri dengan tongkatnya
itu. Pecahan buah kelapa itu digunakan untuk mengambil air di sumur. Kini kedua
tangannya membawa pecahan buah kelapa yang telah terisi dengan air. Ia tidak
bisa berjalan cepat lagi sebagaimana pada saat pergi. Ia tidak ingin air yang
dibawanya tumpah. Ia tidak ingin sia-sia pulang balik dengan tidak membawa air.
Kasihan temannya yang menunggunya.Ia berjalan dengan hati-hati. Panas matahari
tidak dihiraukannya.
Sunan Giri memandangi ke jalanan melihat santri yang
diutusnya. Ia senang sekali melihat santrinya sudah nampak menuju ke arahnya.
Santri itu berjalan semakin mendekati Sunan Giri.
“Kowe ini nggowo opo?” tanya Sunan Giri kepada santrinya
yang datang dengan kedua tangannya membawa belahan buah kelapa.
“Beto toyo, Kanjeng Sunan” jawabnya singkat sambil
menyodorkan kedua tangannya. Atas peristiwa itu daerah itu dinamai Betoyo
Sunan Giri mengambil belahan buah kelapa yang berisi air itu
dan diminumkan kepada santrinya yang sakit dan mengaduh kehausan. Santri
meminum air itu. Air itu membawasi tenggorokannya yang kering. Rasanya seperti
minum air bercampur es.
“Alhamdulillah, terima kasih sobat kamu telah bersusah payah
mengambil air untukku” katanya pelan.
“Maafkan segala kesalahanku. Rasa-rasanya umurku sudah tidak
akan lama lagi. Asyhadu an la ilaha illallah waasyhadu anna Muhammadar
rasulullah” ujar santri itu setelah minum air itu.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” terdengar dari Sunan
Giri dan santrinya.
Santri itu meninggal dunia di tempat itu yang kini bernama
Betoyo. Sunan Guru dan santrinya dibantu penduduk setempat merawat jenazahnya,
mulai dari memandikan, mengkafani, mensalati, hingga menguburtkan. Santri itu
dimakamkan di Betoyo. Pemakaman tempat santri itu dikuburkan dinamakan makam
Sawo.
Pada saat itu Kyai Darmo Pipiyudo sudah meninggal dunia. Ia disemayamkan
di makam yang berada di tengah-tengah desa. Penduduk desa menyebut makam Kyai
Darmo Pipiyudo itu dengan sebutan Makam Buyut Deso. Makam Kyai Darmo Pipiyudo
banyak diziarahi peziarah terutama pada malam-malam ganjil sepuluh hari akhir
bulan Ramadan. .
sumber/:
http://masnukhan.blogspot.com/2012/02/asal-usul-desa-betoyo-manyar-gresik.htm
Tag :
arbeta
Buah Bogem
Mungkin anda penasaran dengan yang namanya buah ini.buah ini adanya di tepi sungai manyar gresik.biasanya anak desa kami mencari buak ini untuk di makan.cara mencarinya harus naik.dulu waktu masih kecil saya dan teman" sering jalan jalan di area pertambakan.
biasanya kalau mencari buah tersebut setelah sholat jumat.sepanjang jalan hanya ada tambak dan pohon api-api.sesekali melewati gubuk dan nyebrang jembatan kayu yang / WOT .kami bersama-sama naik sepeda rame-rame sesekali kadang balapan walau jalan cuma lebar 1 meter,kalaupun jatuh paling cuma tercebur ke tambak.sebelum sampai tujuan kami menemui banyak monyet bergelantungan,,,,hihihih...kayak siapa itu?.
banyak sekali monyetnya mereka makan daun buah ciplukan.tapi jangan dekat dekat kalau ketemu monyet soalnya suka usil,setelah lama perjalanan kita sudah sampai dan lansung naik pohon bogem.waw,ternyata buahnya asam banget,,,ngiler deh pokoknya.kami sudah dapat banyak buah sebelum pulang kami mendapat pohon batu yang lagi berbuah,,segara dech,,serbuuu...wow
pohon yang mirip ental ini ternyatan manissss..akhirnya kita pulang.sesaampai di rumah itu buah di buat rujak...hemmm...ngiler pkok'e tak jamin kecuuuttttt tapi jangan takut biasa nguleg bumbu rujak pake gula pasir jadi rasanya MANIS ASAM ASIN rame dech rasanya....kapan ya bisa cari buah lagi????maknyus.
biasanya kalau mencari buah tersebut setelah sholat jumat.sepanjang jalan hanya ada tambak dan pohon api-api.sesekali melewati gubuk dan nyebrang jembatan kayu yang / WOT .kami bersama-sama naik sepeda rame-rame sesekali kadang balapan walau jalan cuma lebar 1 meter,kalaupun jatuh paling cuma tercebur ke tambak.sebelum sampai tujuan kami menemui banyak monyet bergelantungan,,,,hihihih...kayak siapa itu?.
banyak sekali monyetnya mereka makan daun buah ciplukan.tapi jangan dekat dekat kalau ketemu monyet soalnya suka usil,setelah lama perjalanan kita sudah sampai dan lansung naik pohon bogem.waw,ternyata buahnya asam banget,,,ngiler deh pokoknya.kami sudah dapat banyak buah sebelum pulang kami mendapat pohon batu yang lagi berbuah,,segara dech,,serbuuu...wow
pohon yang mirip ental ini ternyatan manissss..akhirnya kita pulang.sesaampai di rumah itu buah di buat rujak...hemmm...ngiler pkok'e tak jamin kecuuuttttt tapi jangan takut biasa nguleg bumbu rujak pake gula pasir jadi rasanya MANIS ASAM ASIN rame dech rasanya....kapan ya bisa cari buah lagi????maknyus.
Tag :
arbeta
Betoyo Guci Jadi Sentra Batik Gresik
Sejumlah ibu-ibu dari Desa Betoyo Guci, Kecamatan Manyar terlihat tekun dan asyik mengikuti pelatihan membatik. Mulai dari dari proses menggambar, nyanting, ndulit warna, nembok, nglorot, hingga finishing, semuanya diikuti dengan seksama dan senang hati.
Mereka berlatih selama 1 bulan.
Namun karena masih pemula, hasilnya kurang maksimal, namun rasa bangga terlihat dari wajah mereka. Batik yang sudah mereka buat, langsung dijahit dan dibuat baju, hasilnya ada yang warna cerah, ada yang sedikit agak redup, ada yang terlihat belang.
Istruktur batik, Siti Zunaiyah Budiarti yang akrab di sapa Ny Arty merasa bangga dengan antusias para ibu. Apalagi dalam beberapa tahun belakangan, dirinya sering diminta dinas UKM Propinsi Jatim untuk mengajari pembatik pemula di beberapa kabupaten / kota di Jawa Timur.
“Untuk pelatihan kali ini, kami berharap dapat membentuk komunitas pembatik. Syukur-syukur bisa untuk menambah penghasilan,” katany
a kepada portal-G
Sementara Kadisnaker Gresik, Edy Purwanto mengatakan selama ini pelatihan bagi pencari kerja hanya seputar pertukangan, las, dan menjahit. ”Baru sekarang kami melakukan pelatihan membatik bagi ibu- ibu yang berasal dari desa yang sama.
Ke depan kami berharap agar menjadi sentra kampung batik. Selain ikut menambah perekonomian keluarga, bisa ikut mengenalkan desa ini ke luar daerah,” jelasnya, Jumat (6/4)
Para pembatik pemula ini oleh Disnaker dibekali dengan peralatan, yaitu kompor gas, tabung gas, selang beserta regulatornya, panci, timbangan dan seperangkat canting.
Apalagi Arti berjanji akan ikut mendistribusikan hasil kreasi batik mereka.
“Kami harap tetap berkomunikasi, dari saya siap menampung dan menjualkan produk-produk tersebut di gerai kami di Surabaya. Tidak menutup kemungkinan nantinya akan dipasarkan ke luar daerah,” tegas Arti.
TRADISI BETOYO
halo guys,udah tau kan cerita betoyo.sekarang waktunya mengulas apa saja tradisi yang ada di betoyo.di semua daerah pasti memiliki ciri masing-masing antara desa satu dengan desa yang lain.nah,di sini ada keunikan dari pada desa yang berpenghasilan tambak ini yang pernah jaya di masa pemerintahan Gus dur,cuma 1 tahun aja!.tapi jangan salah waktu ORDE BARU juga jaya loh.heheheh..
ada tradisi yang masih lekat di desa betoyo.yaitu nyekar nang buyut(selamatan di makam) yang di adakan setiap satu tahun sekali oleh warga betoyo dan juga dilakukan bila ada warga betoyo hajatan di desa tersebut.mau nikah,sunat atau hajatan yang lain harus melakukan ritual nyekar nang buyut.kalau tidak begitu,akan timbul masalah dalam melangsungkan acara seperti masak nasi tidak bisa matang,kecelakaan,angin ribut dll.pokoknya ada ajah mengganggu.meskipun jaman udah berubah,tp masih dilakukan.itulah sedikit ceritany dan masih banyak lagi...
entar ya,bersambung dulu.........ada tradisi yang masih lekat di desa betoyo.yaitu nyekar nang buyut(selamatan di makam) yang di adakan setiap satu tahun sekali oleh warga betoyo dan juga dilakukan bila ada warga betoyo hajatan di desa tersebut.mau nikah,sunat atau hajatan yang lain harus melakukan ritual nyekar nang buyut.kalau tidak begitu,akan timbul masalah dalam melangsungkan acara seperti masak nasi tidak bisa matang,kecelakaan,angin ribut dll.pokoknya ada ajah mengganggu.meskipun jaman udah berubah,tp masih dilakukan.itulah sedikit ceritany dan masih banyak lagi...
Tag :
arbeta
ASAL & USiL BETOYO
Beberapa warga yang merantau,baik orang dewasa maupun pemuda/i yang berasal dari suatu daerah yang berpenghasilan dari lahan tambak.Pasti mengenal seluk beluk yang ada di daerahnya,diantaranya Desa betoyo.Dinamakan betoyo kemungkinan besar di karenakan daerah ini susah dengan kebutuhan air untuk konsumsi.Baik cuci pakaian,masak,mandi dll.Meskipun di tambak banyak air,tp rasa airnya asin dan payau.Jika mencari air harus ke desa tetangga sebelah .Dan kata betoyo sendiri masih belum terkuak.
Konon kata orang tua,warga betoyo kalau ambil air ke desa lain yaitu banyuwangi.Karna setiap ambil air selalu bawa guci,maka jadilah betoyo guci dan dusun lain yang di wilayah betoyo juga ada.Karna betoyoguci jaraknya dekat dengan mata air,maka dapat air duluan dan dusun sebelah tidak kebagian.jadi dusun sebelah namanya betoyo kauman yang artinya membawa air tp tidak cukup atau kurang(ka-uman : g uman/tidak kebagian).
versi lain betoyo artinya mbeto tuyo(membawa air),asalnya membawa air dari banyutami.sedangkan nama kauman konon warganya mendakatkan diri pada Allah SWT dgn bersholawat,ngaji dsb.Sehingga di juluki "kaum beriman" jadi betoyo kauman.Sedangkan Guci merupakan nama seorang sunan atau pemimpin/ustadz/kiai yang ada di betoyo dan jadilah betoyo guci.makamnya GUCI masih menjadi fenomena yang masih belum terkuak.ada yang tau di mana?....
itulah sekedar cerita 2 desa di BETOYO.kebenaran dari cerita tersebut masih menerka nerka..jadi boleh usul gak boleh asal......
versi lain betoyo artinya mbeto tuyo(membawa air),asalnya membawa air dari banyutami.sedangkan nama kauman konon warganya mendakatkan diri pada Allah SWT dgn bersholawat,ngaji dsb.Sehingga di juluki "kaum beriman" jadi betoyo kauman.Sedangkan Guci merupakan nama seorang sunan atau pemimpin/ustadz/kiai yang ada di betoyo dan jadilah betoyo guci.makamnya GUCI masih menjadi fenomena yang masih belum terkuak.ada yang tau di mana?....
itulah sekedar cerita 2 desa di BETOYO.kebenaran dari cerita tersebut masih menerka nerka..jadi boleh usul gak boleh asal......
Tag :
arbeta
Tag :
arbeta
Tangkap Penembak Polisi Pakai Tangan Kosong
Makassar - Berkat keberaniannya melumpuhkan pelaku yang baru saja menembak anggota Polisi, Brigpol Syarif Dunggio, Prajurit Dua (Prada) Muhammad Thoyib (23), dipanggil khusus oleh Panglima Kodam VII Wirabuana Mayor Jenderal Bachtiar di Makodam VII di Makassar, untuk diberi penghargaan.
Prada Thoyib, anggota TNI Angkatan Darat yang bertugas di Yonif 713 Brigif 22 Gorontalo, dengan tangan kosong berhasil melumpuhkan RR yang membawa pistol, tersangka pelaku curanmor, yang kabur melarikan diri usai menembak Brigadir Syarif dan seorang pengemudi becak motor, Daud, yang melarikan diri ke simpang Telaga, Gorontalo, sekitar pukul 17.30 Wita, 26 Desember 2014 lalu.
"Saat itu saya ikut pengamanan Operasi Lilin, saat mendengar teriakan minta tolong dari polisi, saya langsung kejar pelaku, saat pelaku terdesak di pemukiman warga langsung saya tendang dadanya, pistolnya jatuh langsung saya rebut dan lumpuhkan dia," ujar Prada Thoyib yang ditemui detikcom di ruang Kapendam VII Wirabuana, Senin (19/1/2015).
Usai melumpuhkan RR, Prada Thoyib langsung membopong pelaku yang pingsan ke Polresta Gorontalo.
Putra sulung pasangan petani tambak asal Gresik, Abdul Ghofar dan Nafilah ini, mengaku spontan mengejar pelaku yang merebut pistol revolver Brigpol Syarif yang lengah saat membawa tersangka pelaku curanmor melakukan pengembangan kasus.
Brigpol Syarif yang terkena tembakan di bawah ketiaknya sempat dirawat di RSUD Gorontalo, sebelum akhirnya meninggal dunia sekitar pukul 23.30 Wita, 26 Desember 2014 lalu.
Dengan penghargaan yang dia dapatkan, membuat Prada Thoyib semakin bangga sebagai prajurit TNI Angkatan Darat.
Berkat jasa Prada Thoyib yang menangkap pelaku penembak polisi, hubungan polisi dan TNI di Gorontalo semakin akrab, yang sebelumnya pernah berkonflik pada 24 April 2012, yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dari pihak TNI, yakni Prada Firman yang tewas tertembak.
Sumber: http://news.detik.com/read/2015/01/19/102502/2806872/10/tangkap-penembak-polisi-pakai-tangan-kosong-prada-thoyib-dapat-penghargaan?n991104466
Tag :
arbeta




















