Tampilkan postingan dengan label arbeta. Tampilkan semua postingan

Budidaya Ikan Wader

Habitat Ikan Wader

 Ikan wader merupakan ikan air tawar yang tidak asing dan mudah ditemukan di Indonesia. Namun secara umum, ikan wader merupakan ikan yang terdistribusi secara rata di daerah Asia Tenggara dan Selatan seperti India dan Indonesia. Ikan wader terbukti sangat popular untuk dikonsumsi dalam berbagai macam bentuk seperti lauk lalap atau snack. Oleh karena itu, permintaan pasar terhadap supply produk ikan wader cukup tinggi di pasaran. Sayangnya, tidak banyak orang yang mengethaui tentang cara budidaya ikan tersebut. Padahal bisnis ikan wader memiliki potensi yang cukup besar sebagai mata pencaharian sehari – hari. Berikut merupakan beberapa tips tentang teknik budidaya ikan wader. Ikan Wader Gambar Ikan Wader 

Mengetahui Anatomi dan Morfologi Ikan Wader 

Untuk membudidayakn ikan wader, pertama – tama kita harus mengetahui ciri – ciri fisik ikan wader agar mempermudah dalam pemeliharaannya. Di Indonesia, pada umumnya kita dapat menjumpai dua jenis ikan wader, yaitu wader pari dan wader cakul. Ikan wader pari cenderung lebih ramping dan memiliki warna keemasan dan keperakan di bagian atas dan bawah tubuhnya. Sedangkan wader cakul memiliki warna perak kehijauan dan memiliki dua bintik di bagian ujung ekornya. Kedua jenis wader tersebut memiliki ukuran kurang lebih 10-17 cm. Pada ikan wader betina biasanya terdapat tiga lubang kelamin dibandingkan jantan yang hanya memiliki dua. 

Persiapan Tempat Pemeliharaan 

Untuk membudidayakan ikan wader, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyediakan kolam atau tempat pemeliharan yang layak. Dua macam kolam harus disediakan, yaitu kolam untuk induk dan juga kolam untk pengembangbiakkan bibit baru. Sebelum memindahkan ikan wader hasil tangkapan ke dalam kolam, alangkah baiknya apabila kolam dikeringkan dahulu selama beberapa hari. Upaya tersebut ditujukan untuk membunuh bakteri dan menghilangkan aroma tidak sedap pada saat usaha pemijahan. Air yang digunakan untuk mengisi kolam juga diharuskan air tawar. Jangan lupa untuk menjaga kebersihan kolam agar ikan wader anda terhindar dari benih – benih bakteri, jamur, dan penyakit.

 Pemisahan Induk 

Seperti yang telah disebutkan diatas, kolam untuk induk ikan wader harus disendirikan dari kolam bibit ikan. Hal tersebut dikarenakan adanya resiko induk untuk memakan telur atau bayi ikan mereka. Setelah dipisah, induk – induk tersebut harus diberi makan pellet atau ampas tahu agar segera mematangkan gonadnya. Gonad merupakan kelenjar yang memproduksi cairan gamet yang dapat menarik ikan jantan untuk membuahi sel telur mereka. Gonad biasanya akan matang setelah dua hari diberi makan dan dirawat pada kolam khusus induk. Setelah gonad matang, langkah selanjutnya adalah melakukan pemijahan atau pemberanakkan. Secara umum, telur ikan wader akan menetas 24 jam setelah telur dikeluarkan. 

Pemisahan Larva dan Benih Ikan Wader 



 Setelah benih ikan wader menetas, adalah penting untuk segera memindahkan benih – benih tersebut ke kolam tersendiri. Benih ikan wader biasanya akan memakan plankton atauu lumut yang tumbuh di kolam. Namun untuk menambah nutrisi dan mempercepat pertumbuhan, bisa diberikan asupan nutrisi lain terhadap bibit – bibit ikan wader tersebut. Pemberian nutrisi tambahan tersebut dapat dilakukan melalui kuning telur ayam rebus yang dihaluskan. Memberi kuning telur ayam rebus secara rutin akan memberi bibit – bibit tersebut pasokan protein yang penting bagi pertumbuhan mereka. Ukuran benih ikan wader secara umum berkisar antara 0-5 cm dengan berat rata – rata mencapai sekitar 1 gram.

SEJARAH BUYUT PASAR BETOYO

Pada zaman kesultanan giri daerah betoyo dan sekitarnya sudah menganut agam islam tapi keimanan mereka maih lemah sehinggamasih banyak warga yang melakukan hal-hal yang jauh dari kemurnian islam.Ini di tandai dengan maraknya perjudian,minuman arak,tandak dan sejenisnya.


Di kala ada warga yang melakukan hajatan baik nikah atau sunatan yang mana itu semua tidak sesuai dengan tuntunan agama islam.Mengetahui akan hal tersebut,kesultanan giri mengutus seorang kesatria pilihan yang sakti mandraguna untuk berdakwa ke betoyo dan sekitarnya.Dalam dakwanya beliau mendapat perlawanan dari warga yang tidak mau menghilangkan kebiasaan buruknya.

Suatu kali dia melakukan dakwah di desa kemudi.Akhirnya beliau dikejar-kejar hendak di bunuh oleh masyarakat setempat.Beliau lari ke utara dan di suatu tempat orang-orang yang mengejar bersorak mengira beliau terbunuh.sekarang tempat tersebut di namai tambak SISORAK.

Beliau terus lari ke utara melewati tanah yang tidak rata dan berundak-undak.kelak daerah tersebut bernama tambak SIJOGAG.

Beliau terus lari ke utara dan orang orang yang mengejar mengepungnya dengan palang bambu tapi karena kesaktiannya beliau dapat meloloskan diri.kelak daerah tersebut di kenal jadi  tambak SIMALANG.

Pengejaran di teruskan namun krena orang orang yang mengejar dan beliau sama sama lumpuh dan terkuras tenaganya maka di lakukan ikrar damai.Kelak daerah tersebut di kenal dengan tambak SIDUMUNG(adu omong).

Tiba tiba dari utara dan barat muncul orang orang dari desa betoyo yang ingin membunuh beliau.mereka bersenjatakan bambu runcing dan berniat menusukkannya kepada beliau.kelak daerah tersebut di kenal dengan Tambak SISUJEN(Bambu yang runcing untuk menusuk).

Pelarian masih berlanjut dan akhirnya beliau sampai di pasar betoyo.tiba-tiba ada orang tua misterius yang bicara,”Kalian semua tidak akan bisa membunuhnya meskipun dengan pedang sekalipun kecuali  kalau kalian semua bisa mengepungnya dengan memakai lopak(Anyaman bamboo untuk panen ikan)dan tidak boleh ada yang memukuli atau berusahah melukainya dengan senjata tajam”.

Akhirnya orang orang menuruti perkataaan orang tua misterius tersebut dan dengan izin Allah SWT beliau wafat di tempat tersebut dan di makamkan di tempat tersebut.kini berlokasi tepat di sebelah masjid jami’ BAITUL FATTAH.
wassalam.

Sumber : Diceritakan Oleh H SHOLEH ALY dari cerita kakeknya di perkuat pendapat beberapa Orang di luar desa betoyo yang tahu kebenaran cerita tersebut.

Vidio Qurban Masjid Baitul Fattah

 
penjagalan sapi


                                        
pemotongan sapi pertama 
oleh : Bpk.Rusdy Aziz

 
 sang jagal


 
tajamnya mata parang

Foto Hewan Qurban di Baitul Fattah

08.30 WIB
08.31 WIB
08.35
08.40 WIB
08.50 WIB
08.55 WIB
09.05 WIB
09.10.WIB
09.20 WIB
10.50 WIB
10.15 WIB
10.20
10.25 WIB
10.30 WIB
10.35 WIB
10.40 WIB
10.45 WIB
11.00 WIB

pemaianan Anak Kampung (Sepiring Seperak)

sepiring seperak  adalah games yang bisa dilakukan oleh lebih dari empat orang,.. dengan salah satunya menjadi orang yang “jadi",.. yaitu orang yang berdiri di tengah yang diharuskan nyanyi sambil menunjuktangan yang di tengadahkan,,.. 

Permainan ini dilakukan dengan bernyanyi,. dengan di ujung nyanyian diberikan satu tebakan… dan di lanjutkan denagn menyabut nama dan jawaban sesuai pertanyaannya berkisar tentang buah/hewan..

 makanya permainan ini dinamakan sepring seperak.Anak2 yang mengelilingi si “jadi’ ini berkeliling mengadah astu tangan sambil menyanyikan lagu jamuran,.. yang kalau tidak salah syairnya seperti berikut ini

”sepiring dua piring ,seperak dua perak apa namanya,..(rambutan)..mas agus pilih rambutan.“

yang menjadpat gilitran yang terakhir akan " jadi",.. nanti di mulai lagi disebut oleh si “jadi ” ini,.. semisal,. ‘a kamu duluan,maka jadi awal lagu”,.. maka anak yg tidak “jadi “tetap mangadahkan tangan,.dan di lakukan secara berulang,biasanya yang "jadi" si duruh gendongan atau pijit.

ASAL USUL DESA BETOYO


Kyai Darmo Pipiyudo adalah pendatang yang pertama masuk ke daerah sebelah barat Manyar. Daerah itu belum dihuni banyak penduduk. Hanya ada beberapa rumah di daerah itu. Daerah itu dikelilingi rawa-rawa sehingga bila dilihat dari luar daerah itu seperti hamparan rawa yang luas yang ditumbui rerumpuutan dan ilalang yang menjulang. Orang tidak menyangka kalau di tengah-tengahnya terdapat pemukiman penduduk

Kyai Darmo Pipiyudo berasal dari negari seberang. Ia berasal dari kota suci Mekah. Ia meninggalkan negaranya dan mengembara demi menyebarkan agama Islam. Dalam pengembaraannya itu ia sampai di daerah itu dan merasa nyaman tinggal di tempat itu.

.Kyai Darmo Pipiyudo dituakan dan ditokohkan di daerah itu karena ia satu-satunya pendatang pertama dan yang paling tua umurnya di anatara pendatang lainnya. Ia sangat disegani dan dihormati oleh penduduk setempat. Apapun yang dikatakannya penduduk setempat selalu mematuhinya.

“Daerah ini tidak waris kalau dipimpin oleh penduduk asli. Bila yang memimpin daerah ini berasal dari penduduk asli maka pemimpin itu tidak akan lama. Ia tidak akan berumur panjang” kata Kyai Darmo Pipiyudo suatu ketika kepada penduduk setempat.

 Ucapan itu benar-benar dipegang teguh oleh penduduk setempat. “Meskipun pemimpin itu pintar tapi ia tidak akan kuat memimpin daerahnya sendiri. Daerah ini yang cocok dipimpin oleh penduduk pendatang meskipun ia tidak begitu pintar tapi akan kuat memimpin daerah ini” tambahnya.

Suatu ketika daerah itu dipimpin oleh penduduk asli. Ia tidak lama memimpin daerah itu. Tidak lama memimpin daerah itu ia meninggal dunia Peristiwa ini memperkuat keyakinan penduduk terhadap ucapan Kyai Darmo.

“Abah saya mohon izin untuk memimpin daerah ini” kata Laras Mudin kepada abahnya.

“Menurut Abah, kamu ini kurang tepat kalau memimpin daerah ini” kata Kyai Darmo.

“Mengapa demikian, Abah?”tanya Laras Mudin.

“Menjadi seorang pemimpin itu harus seorang berhati segoro karena pemimpin itu akan berhadapan dengan berbagai macam penduduk yang mempunyai watak yang berbeda-beda. Sifat ini yang belum kamu miliki anakku.”jelas Kyai Darmo.

“Berarti Abah tidak memberi izin saya untuk memimpin daerah ini?”tambah Laras Mudin.

“Bukan begitu, anakku. Abah hanya memberikan pertimbangan kepadamu supaya kamu pikirkan matang-matang sebelum kamu teruskan niatmu itu. Keputusan itu ada padamu karena kamu sudah dewasa. Sebagai orang tua Abah hanya memberikan nasihat kepadamu.” kata Kyai Darmo.

Laras Mudin atau yang lebih dikenal penduduk dengan panggilan Mbah Mudin akhirnya mengurungkan niatnya untuk menjadi pemimpin di daerahnya. Ia sudah memikirkan masak-masak dan sudah mempertimbangkan baik-buruknya. Ia membenarkan ucapan abahnya kalau wataknya kurang cocok sebagi seorang pemimpin. Ia merasa kalau dirinya keras dan kaku.

 Watak itu memang kurang sesuai dengan watak seorang pemimpin. Ia tidak mempunyai hati samudra sebagaimana yang disyaratkan Abahnya. Ia manyadari bahwa masyarakat akan melawan kalau dipimpin dengan menggunakan kekerasan dan tangan besi. 

Sauatu hari Kyai Darmo kedatangan seorang tamu.

“Assalamu alaikum” sapa tamu itu..

“Walaikum salam warahmatullah wabarokatuh” jawab Kyai Darmo.

“Kisanak ini siapa dan dari mana?” tanya Kyai Darmo.

“Maaf, Kyai. Saya Jakfar dari Tuban” Jawab Sayid Jakfar.

“Ada keperluan apa Kisanak datang ke gubuk kami?” tanya Kyai Darmo kepada tamunya dengan nada rendah.

“Saya ke sini ingin menimbah ilmu kepada Kyai. Saya sudah mendengar banyak tentang Kyai. Ketinggian ilmu Kyai sudah kondang sampai di daerah kami. Oleh karena itu, saya jauh-jauh datang ke sini untuk berguru kepada Kyai”tutur Sayid Jakfar.

“Saya tidak mempunyai ilmu apa-apa. Semua ilmu itu milik Allah subhanallahu wa ta ala. Saya hanya ditipipi setetes ilmu-Nya saja. Hanya orang-orang yang terlalu membesar-besarkan” jawab Kyai merendah.

“Saya tidak salah memilih Kyai sebagai guru saya karena orang berilmu tinggi namun rendah hati” ujar Sayid Jakfar.

Sayid Jakfar diterima Kyai Darmo sebagai murid. Ia diajari ilmu yang diingini. Ia sangat senang mempelajari ilmu yang diberikan gurunya karena itu sudah menjadi tekadnya. Ia ditugasi gurunya melakukan tapa demi kesempurnaan ilmu yang dipelajarinya. Ia melakukan tapa sesuai dengan petunjuk gurunya hingga sempurna tapanya. Usai melaksakan tapanya ia ditugasi Kyai Darmo memimpin daerah itu. 

Sebagai seorang murid yang taat, ia menurut perintah gurunya. Ia menjadi pemimpin di daerah itu. Namun, ia tidak lama menjadi pemimpin daerah itu. Ia meninggal dunia. Hal ini juga berulang pada murid Kyai Darmo yang bernama Sayid Abdur Rahman. Ia juga bernasib sama dengan Sayid Jakfar meninggal dunia tidak lama setelah memimpin daerah itu. Hal serupa juga dialami murid ketiga Kyai Darmo. 

Daerah itu tidak ada yang memimpin karena pemimpinnya meninggal dunia. Atas saran Kyai Darmo selaku orang yang dituakan di daerah itu akan diadakan pemilihan pemimpin yang baru. Wara-wara dikumandangkan di mana-mana bahwa akan diadakan pemilihan pemimpin daerah itu. Semua penduduk boleh mencalonkan diri, baik penduduk asli maupun penduduk pendatang dari daerah lain.

Setelah lama diumumkan kepada penduduk, ada dua orang yang mencalonkan diri sebagai calon pemimpin daerah itu. Mereka kakak beradik, Sayid Noroyudo dan adiknya yang bernama Sayid Simoyudo.Penduduk daerah itu mengadakan pemilihan calon pemimpinnya  Mereka berbondong-bondong menuju ke tempat pemilihan. 

Mereka antri mendapat giliran. Mereka memilih calonnya dengan memasukkan biting ke dalam bumbung yang telah disediakan untuk masing-masing calon. Setiap penduduk yang telah memiliki hak pilih mendapatkan satu biting.
 
Setelah penduduk yang mempunyai hak pilih itu melakukan pemilihan dan batas waktu pemilihan yang ditentukan  sudah dilalui. Panitia pemilihan mengadakan penghitungan biting yang dimasukkan ke dalam masing-masing calin pemimpin.

Dalam pemilihan itu Sayid Simoyuda memenangi pemilihan itu mengalahkan kakaknya, Sayid Noroyudo. Sayid Simoyudo dikukuhkan sebagai pemimpin baru di daerah itu menggantikan pemimpin yang telah meninggal dunia. 

Sayid Noroyudo merasa malu karena dikalahkan adiknya dalam pemilihan itu, ia memilih pindah meninggalkan daerah itu. Ia pindah ke barat ke daerah Pentol. Di daerah barunya itu ia menjadi tokoh yang disegani karena ilmunya. Di daerah ini ia mendidirkan tempat ketangkasan ilmu yang berada di tengah-tengah desa.

 Dengan adanya tempat adu ketangkasan ilmu itu sering terjadi keributan dan pertengkaran antara warga desa Pentol dan desa Tanggul rejo. Agar tidak sering terjadi keributan di desa Pentol itu pada saat adu ketangkasan maka desa Pentol diganti nama menjadi desa Sumberejo Penggantian nama itu diharapkan dapat memberikan suasana baru.

Suatu hari Sunan Giri Gresik pulang dari pengembaraan dan  sampai di daerah Pedurungan. Ia dikuti santrinya. Di daerah itu santrinya kehausan. Mereka tidak menemukan air tawar yang dapat diminum. Santri-santrinya diutus mencari air di sekitar daerah itu namun tidak menemukan. 

Di daerah itu airnya asin semua sehingga tidak bisa diminum. Melihat santrinya sudak tidak kuat lagi menahan rasa laparnya, Sunan Giri menancapkan tongkatnya ke tanah. Bekas tancapan tongkat itu mengeluarkan sumber air tawar. Para santrinya sangat senang melihat air tawar itu. Mereka segera mengambil air dan meminumnya untuk menghilangkan rasa dahaganya. Sumber air itu menjadi sebuah sumur dan berada di tengah-tengan pasar Pedurungan.

Setelah puas mengisi perutnya dengan air tawar dan jernih itu, rombongan Sunan Giri meneruskan perjalanan menuju ke selatan sampai di daerah Tambak Brekat. Terik matahari menguras air yang ditampung di perut mereka. Sengatan matahari itu menyebabkan kerongkongan mereka kering kerontang lagi. Mereka merasa haus. Mereka mencari sumber air tawar di daerah itu tidak menemukan. Mereka menghadap kepada Sunan Giri kalau di tempat itu tidak ditemukan sumber air tawar yang bisa diminum padahal rasa haus mereka sudah tidak bisa ditahan lagi. 

Sunan Giri mengangkat tongkat yang dipegang di tangan kanannya Tongkat itu ditancapkan ke tanah. Tongkat itu masuk ke tanah dengan mudahnya Tanah itu menjadi berlubang dan lubangnya semakin membesar membentuk sumur. Sumur itu mengeluarkan air tawar yang jernih. Santri Sunan Giri segera mengambil air dan minum sepuas-puasnya.

Rombongan itu meneruskan perjalanan ke arah timur setelah beristirahat beberapa saat di daerah Tambak Brekat. Mereka berjalan kaki menyusuri jalan itu dibawa panasnya matahari yang membakar kulit. Rombongan itu sudah jauh meninggalkan daerah Tambak Brekat. Di tengah perjalanan salah seorang santrinya menderita sakit. Ia mengalami kecapekan selama dalam perjalanan. 

Santri yang sakit itu minta minum karena kehausan. Sunan Giri menyuruh santrinya untuk mencari air di sekitar daerah itu. Mereka tidak menemukan sumber air tawar di sekitar daerah itu. Sunan Giri menggunakan tongkatnya untuk membuat sumber air sebagaimana yang dilakukan saat di Pedurungan dan Tambak Brekat. Diangkatnya tongkat di tangan kanannya itu dan ditancapkan ke tanah. Setelah tongkat itu dicabut tak setetespun air yang keluar dari bekas tancapan tongkat itu. 

Santri yang memperhatikan dan menunggu keajaiban sebagaimana yang mereka alami sebelumnya tidak terjadi. Mereka merasa keheran-heranan. Sunan Giri menancapkan tongkatnya lagi ke tanah untuk kali kedua namun air tak kunjung keluar dari tanah tersebut. Mereka merasa lebih heran lagi mengapa tidak seperti sebelumnya hanya dengan sekali tancap langsung keluar sumber airnya denga deras.

 Mereka tidak berani bertanya kepada gurunya. Sunan Giri mengilanginya sampai ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh, kedepalan, dan kesembilan. Hasilnya nihil tidak ada sumber air yang keluar dari tanah bekas tancapan itu.
“Santri-santriku, rupanya Allah menguji kesabaran kita” kata Sunan Giri.”Kita harus tabah terhadap ujian yang diberikan Allah kepada kita” tambahnya. Para santrinya yang mendengar tidak menjawab sepatah kata pun hanya menganggukkan kepala.

“Pergilah kamu mengabil air tawar untuk temanmu yang sakit ini di tempat yang ada sumber air tawarnya itu” kata Sunan Giri sambil menunjuk daerah yang baru saja ditinggalkannya. 

“Dengan apa saya harus membawa air itu Kanjeng Sunan?”tanya santri yang ditunjuk itu. Sunan Giri belum sempat menjawab pertanyaannya santri itu terburu-buru pergi meninggalkan tempat itu. Sunan Giri merawat santrinya yang sakit. Santri itu dibaringkan di bawah bawah yang rindang agar tidak semakin haus terkena sengatan sinar matahari. Santri lainnya memijat-mijat kaki dan tangan temannya yang sakit. 

“Haus…haus…haus” ujarnya pelan.

“Sabar sobat sebentar lagi teman kita datang membawa air” ujar temannya.

Sementara itu santri yang ditugasi mengambil air itu terus berjalan cepat agar sampai di tempat yang dituju sambil memikirkan wadah untuk membawa air. Di tengah perjalanan ia melihat sebuah buah kelapa muda yang baru saja terjatuh dari pohonnya. Pikirannya pecah. Ia mengambil buah kelapa itu. Buah itu dilemparkan ke tanah keras-keras sehingga pecah dan terbelah menjadi dua. 

Ia bergegas-gegas menuju sumur yang dibuat Sunan Giri dengan tongkatnya itu. Pecahan buah kelapa itu digunakan untuk mengambil air di sumur. Kini kedua tangannya membawa pecahan buah kelapa yang telah terisi dengan air. Ia tidak bisa berjalan cepat lagi sebagaimana pada saat pergi. Ia tidak ingin air yang dibawanya tumpah. Ia tidak ingin sia-sia pulang balik dengan tidak membawa air. Kasihan temannya yang menunggunya.Ia berjalan dengan hati-hati. Panas matahari tidak dihiraukannya. 

Sunan Giri memandangi ke jalanan melihat santri yang diutusnya. Ia senang sekali melihat santrinya sudah nampak menuju ke arahnya. Santri itu berjalan semakin mendekati Sunan Giri.

“Kowe ini nggowo opo?” tanya Sunan Giri kepada santrinya yang datang dengan kedua tangannya membawa belahan buah kelapa.

“Beto toyo, Kanjeng Sunan” jawabnya singkat  sambil menyodorkan kedua tangannya. Atas peristiwa itu daerah itu dinamai Betoyo

Sunan Giri mengambil belahan buah kelapa yang berisi air itu dan diminumkan kepada santrinya yang sakit dan mengaduh kehausan. Santri meminum air itu. Air itu membawasi tenggorokannya yang kering. Rasanya seperti minum air bercampur es. 

“Alhamdulillah, terima kasih sobat kamu telah bersusah payah mengambil air untukku” katanya pelan. 

“Maafkan segala kesalahanku. Rasa-rasanya umurku sudah tidak akan lama lagi. Asyhadu an la ilaha illallah waasyhadu anna Muhammadar rasulullah” ujar santri itu setelah minum air itu.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” terdengar dari Sunan Giri dan santrinya. 

Santri itu meninggal dunia di tempat itu yang kini bernama Betoyo. Sunan Guru dan santrinya dibantu penduduk setempat merawat jenazahnya, mulai dari memandikan, mengkafani, mensalati, hingga menguburtkan. Santri itu dimakamkan di Betoyo. Pemakaman tempat santri itu dikuburkan dinamakan makam Sawo. 

Pada saat itu Kyai Darmo Pipiyudo sudah meninggal dunia. Ia disemayamkan di makam yang berada di tengah-tengah desa. Penduduk desa menyebut makam Kyai Darmo Pipiyudo itu dengan sebutan Makam Buyut Deso. Makam Kyai Darmo Pipiyudo banyak diziarahi peziarah terutama pada malam-malam ganjil sepuluh hari akhir bulan Ramadan. .

sumber/: http://masnukhan.blogspot.com/2012/02/asal-usul-desa-betoyo-manyar-gresik.htm

Buah Bogem

Mungkin anda penasaran dengan yang namanya buah ini.buah ini adanya di tepi sungai manyar gresik.biasanya anak desa kami mencari buak ini untuk di makan.cara mencarinya harus naik.dulu waktu masih kecil saya dan teman" sering jalan jalan di area pertambakan.

biasanya kalau mencari buah tersebut setelah sholat jumat.sepanjang jalan hanya ada tambak dan pohon api-api.sesekali melewati gubuk dan nyebrang jembatan kayu yang / WOT .kami bersama-sama naik sepeda rame-rame sesekali kadang balapan walau jalan cuma lebar 1 meter,kalaupun jatuh paling cuma tercebur ke tambak.sebelum sampai tujuan kami menemui banyak monyet bergelantungan,,,,hihihih...kayak siapa itu?.

banyak sekali monyetnya mereka makan daun buah ciplukan.tapi jangan dekat dekat kalau ketemu monyet soalnya suka usil,setelah lama perjalanan kita sudah sampai dan lansung naik pohon bogem.waw,ternyata buahnya asam banget,,,ngiler deh pokoknya.kami sudah dapat banyak buah sebelum pulang kami mendapat pohon batu yang lagi berbuah,,segara dech,,serbuuu...wow

pohon yang mirip ental ini ternyatan manissss..akhirnya kita pulang.sesaampai di rumah itu buah di buat rujak...hemmm...ngiler pkok'e tak jamin kecuuuttttt tapi jangan takut biasa nguleg bumbu rujak pake gula pasir jadi rasanya MANIS ASAM ASIN rame dech rasanya....kapan ya bisa cari buah lagi????maknyus.

Betoyo Guci Jadi Sentra Batik Gresik

Sejumlah ibu-ibu dari Desa Betoyo Guci, Kecamatan Manyar terlihat tekun dan asyik mengikuti pelatihan membatik. Mulai dari dari proses menggambar, nyanting, ndulit warna, nembok, nglorot, hingga finishing, semuanya diikuti dengan seksama dan senang hati. 

 Mereka berlatih selama 1 bulan. Namun karena masih pemula, hasilnya kurang maksimal, namun rasa bangga terlihat dari wajah mereka. Batik yang sudah mereka buat, langsung dijahit dan dibuat baju, hasilnya ada yang warna cerah, ada yang sedikit agak redup, ada yang terlihat belang. 

Istruktur batik, Siti Zunaiyah Budiarti yang akrab di sapa Ny Arty merasa bangga dengan antusias para ibu. Apalagi dalam beberapa tahun belakangan, dirinya sering diminta dinas UKM Propinsi Jatim untuk mengajari pembatik pemula di beberapa kabupaten / kota di Jawa Timur.

“Untuk pelatihan kali ini, kami berharap dapat membentuk komunitas pembatik. Syukur-syukur bisa untuk menambah penghasilan,” katany
a kepada portal-G Sementara Kadisnaker Gresik, Edy Purwanto mengatakan selama ini pelatihan bagi pencari kerja hanya seputar pertukangan, las, dan menjahit. ”Baru sekarang kami melakukan pelatihan membatik bagi ibu- ibu yang berasal dari desa yang sama.

 Ke depan kami berharap agar menjadi sentra kampung batik. Selain ikut menambah perekonomian keluarga, bisa ikut mengenalkan desa ini ke luar daerah,” jelasnya, Jumat (6/4) Para pembatik pemula ini oleh Disnaker dibekali dengan peralatan, yaitu kompor gas, tabung gas, selang beserta regulatornya, panci, timbangan dan seperangkat canting.

 Apalagi Arti berjanji akan ikut mendistribusikan hasil kreasi batik mereka. “Kami harap tetap berkomunikasi, dari saya siap menampung dan menjualkan produk-produk tersebut di gerai kami di Surabaya. Tidak menutup kemungkinan nantinya akan dipasarkan ke luar daerah,” tegas Arti.

TRADISI BETOYO

halo guys,udah tau kan cerita betoyo.sekarang waktunya mengulas apa saja tradisi yang ada di betoyo.di semua daerah pasti memiliki ciri masing-masing antara desa satu dengan desa yang lain.nah,di sini ada keunikan dari pada desa yang berpenghasilan tambak ini yang pernah jaya di masa pemerintahan Gus dur,cuma 1 tahun aja!.tapi jangan salah waktu ORDE BARU juga jaya loh.heheheh..

ada tradisi yang masih lekat di desa betoyo.yaitu nyekar nang buyut(selamatan di makam) yang di adakan setiap satu tahun sekali oleh warga betoyo dan juga dilakukan bila ada warga betoyo hajatan di desa tersebut.mau nikah,sunat atau hajatan yang lain harus melakukan ritual nyekar nang buyut.kalau tidak begitu,akan timbul masalah dalam melangsungkan acara seperti masak nasi tidak bisa matang,kecelakaan,angin ribut dll.pokoknya ada ajah mengganggu.meskipun jaman udah berubah,tp masih dilakukan.itulah sedikit ceritany dan masih banyak lagi...

entar ya,bersambung dulu.........

ASAL & USiL BETOYO

Beberapa warga yang merantau,baik orang dewasa maupun pemuda/i yang berasal dari suatu daerah yang berpenghasilan dari lahan tambak.Pasti mengenal seluk beluk yang ada di daerahnya,diantaranya Desa betoyo.Dinamakan betoyo kemungkinan besar di karenakan daerah ini susah dengan kebutuhan air untuk konsumsi.Baik cuci pakaian,masak,mandi dll.Meskipun di tambak banyak air,tp rasa airnya asin dan payau.Jika mencari air harus ke desa tetangga sebelah .Dan kata betoyo sendiri masih belum terkuak.

Konon kata orang tua,warga betoyo kalau ambil air ke desa lain yaitu banyuwangi.Karna setiap ambil air selalu bawa guci,maka jadilah betoyo guci dan dusun lain yang di wilayah betoyo juga ada.Karna betoyoguci jaraknya dekat dengan mata air,maka dapat air duluan dan dusun sebelah tidak kebagian.jadi dusun sebelah namanya betoyo kauman yang artinya membawa air tp tidak cukup atau kurang(ka-uman : g uman/tidak kebagian).

versi lain betoyo artinya mbeto tuyo(membawa air),asalnya membawa air dari banyutami.sedangkan nama kauman konon warganya mendakatkan diri pada Allah SWT dgn bersholawat,ngaji dsb.Sehingga di juluki "kaum beriman" jadi betoyo kauman.Sedangkan Guci merupakan nama seorang sunan atau pemimpin/ustadz/kiai yang ada di betoyo dan jadilah betoyo guci.makamnya GUCI masih menjadi fenomena yang masih belum terkuak.ada yang tau di mana?....

itulah sekedar cerita 2 desa di BETOYO.kebenaran dari cerita tersebut masih menerka nerka..jadi boleh usul gak boleh asal......


LOGO arbeta tertua


Nama Komunitas : ARBETA
Tahun Berdiri : 1984
Asal : Betoyo
Kecamatan : Manyar
Kabupaten : Gresik
Propinsi : Jawa Timur
visi dan misi :
 1.sebagai wadah komunikasi warga betoyo kauman dan betoyo guci
2.sebagai pemersatu warga betoyo yang merantau

Tangkap Penembak Polisi Pakai Tangan Kosong

Makassar - Berkat keberaniannya melumpuhkan pelaku yang baru saja menembak anggota Polisi, Brigpol Syarif Dunggio, Prajurit Dua (Prada) Muhammad Thoyib (23), dipanggil khusus oleh Panglima Kodam VII Wirabuana Mayor Jenderal Bachtiar di Makodam VII di Makassar, untuk diberi penghargaan. 

 Prada Thoyib, anggota TNI Angkatan Darat yang bertugas di Yonif 713 Brigif 22 Gorontalo, dengan tangan kosong berhasil melumpuhkan RR yang membawa pistol, tersangka pelaku curanmor, yang kabur melarikan diri usai menembak Brigadir Syarif dan seorang pengemudi becak motor, Daud, yang melarikan diri ke simpang Telaga, Gorontalo, sekitar pukul 17.30 Wita, 26 Desember 2014 lalu.

 "Saat itu saya ikut pengamanan Operasi Lilin, saat mendengar teriakan minta tolong dari polisi, saya langsung kejar pelaku, saat pelaku terdesak di pemukiman warga langsung saya tendang dadanya, pistolnya jatuh langsung saya rebut dan lumpuhkan dia," ujar Prada Thoyib yang ditemui detikcom di ruang Kapendam VII Wirabuana, Senin (19/1/2015). Usai melumpuhkan RR, Prada Thoyib langsung membopong pelaku yang pingsan ke Polresta Gorontalo. 

Putra sulung pasangan petani tambak asal Gresik, Abdul Ghofar dan Nafilah ini, mengaku spontan mengejar pelaku yang merebut pistol revolver Brigpol Syarif yang lengah saat membawa tersangka pelaku curanmor melakukan pengembangan kasus. 

Brigpol Syarif yang terkena tembakan di bawah ketiaknya sempat dirawat di RSUD Gorontalo, sebelum akhirnya meninggal dunia sekitar pukul 23.30 Wita, 26 Desember 2014 lalu. Dengan penghargaan yang dia dapatkan, membuat Prada Thoyib semakin bangga sebagai prajurit TNI Angkatan Darat.

 Berkat jasa Prada Thoyib yang menangkap pelaku penembak polisi, hubungan polisi dan TNI di Gorontalo semakin akrab, yang sebelumnya pernah berkonflik pada 24 April 2012, yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dari pihak TNI, yakni Prada Firman yang tewas tertembak. 

Sumber: http://news.detik.com/read/2015/01/19/102502/2806872/10/tangkap-penembak-polisi-pakai-tangan-kosong-prada-thoyib-dapat-penghargaan?n991104466